Dalam Islam, para ulama di dunia sepakat bahwa tidak ada tempat, rumah, gudang, jembatan, gudang, kendaraan atau benda-benda memiliki “ENERGI GAIB” tertentu.
Apalagi meyakini ENERGI GAIB bekerja secara mandiri sebagaimana konsep energi dalam kepercayaan non-Islam atau mistik. Jika Anda memiliki keyakinan seperti itu maka jatuhnya syirik.
Tapi jangan salah, Islam mengakui adanya pengaruh spiritual pada suatu tempat bukan karena “energi benda” itu, tetapi karena beberapa hal.
Kebiasaan Amalan Manusia di Lokasi Itu
Suatu tempat bisa menjadi diberkahi (penuh kebaikan) atau tercemar (banyak keburukan) karena kebiasaan aktivitas manusia di lokasi tersebut.
Sedangkan tempat yang diberkahi (mubarak) karena banyak aktivitas ibadah, sering dibacakan Al Qur’an, penuh zikir, atau amalan salih lainnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ
Artinya:
“Jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan surah Al Baqarah” (HR. Muslim No. 780)
Hadis ini menjadi dalil kuat tentang ruqyah rumah dan pentingnya menghidupkan rumah dengan bacaan Al Qur’an.
Jadi, yang membuat rumah aman, nyaman dan tenteram karena kebiasaan amalan-amalan orang yang mengunjungi lokasi, bukan disebabkan energi benda-benda itu.
Adapun tempat yang dipenuhi maksiat seperti kesyirikan, khurafat, maksiat terbuka (pacaran), bermesraan (zina), kezaliman, atau peristiwa yang menimbulkan keputusasaan (bunuh diri) jadi sarang jin dan setan.
Waktu dilakukan ruqyah akbar Jumat (21/11/2025) pagi di Jembatan I Barelang Batam itu, saat melintasi trotoar, tim Ruqyah on The Street (RoS) menemukan botol-botol bekas minuman keras (khamr).
Kemudian pada musim akhir pekan atau liburan, sebagian muda-mudi duduk nongkrong di sepanjang trotoar jembatan. Aktivitasnya ada yang berpacaran, peluk-pelukan, sayang-sayangan dan kadang-kadang cium-ciuman atau raba-rabaan di lokasi.
Sangat yakin, tempat yang sering dilakukan maksiat cenderung didatangi jin atau setan—bukan karena energi benda—tetapi karena lingkungan maksiat adalah tempat favorit jin dan setan.
Pengaruh Jin dan Setan Terhadap Tempat
Jin bisa tinggal, lewat, atau berkumpul di tempat tertentu terutama tempat yang kotor, kosong, lembap, gelap, dan penuh maksiat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ هَذِهِ الْحُشُوشَ مُحْتَضَرَةٌ، فَإِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْخَلَاءَ فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
Artinya:
“Sesungguhnya tempat-tempat kotor (najis) itu didatangi dan dihuni oleh jin. Maka apabila salah seorang di antara kalian masuk ke kamar mandi, hendaklah ia membaca: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari gangguan jin laki-laki dan jin perempuan” (HR. Abu Dawud No. 6, At Tirmidzi No. 606, dan Ibnu Majah No. 297)
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا
Artinya:
“Barangsiapa meminum khamar (minuman memabukkan), maka tidak akan diterima salatnya selama empat puluh hari” (HR. An Nasa’i No. 5669 dan At Tirmidzi No. 1862).
Para ulama menjelaskan tempat yang biasa untuk minum (pesta) khamar (memabukkan) adalah tempat berkumpulnya para jin dan setan, karena khamr adalah “ummul khaba’its” yang artinya INDUK DARI SEGALA KEMAKSIATAN.
Jembatan merupakan tempat publik, apalagi jadi ikon wisata ternama di Batam dan kondisinya sering kosong pada dini hari.
Jembatan di atas lautan dan berdekatan dengan hutan-hutan. Ditambah sering dijadikan tempat orang putus asa, niat bunuh diri, dan bahkan mati di lokasi.
Secara syari tempat yang seperti ini masuk kategori tempat yang rawan gangguan jin. Di mana jembatan menjadi lokasi tragedi sehingga jin “mengikat” trauma manusia.
Ulama menyebut ruqyah jembatan termasuk, ruqyah al makan (ruqyah tempat). Hukumnya mubah (boleh) dan sangat dianjurkan bila sering terjadi tragedi kemanusiaan.
Alasan lain, bisa jadi karena lokasi jembatan yang sangat indah menimbulkan ketakjuban setiap mata yang memandang. Pandangan ketakjuban tanpa disertai doa dan zikir akan menimbulkan kecelakaaan pada yang dipandangnya. Hal ini yang disebut dengan al ‘ain (pandangan mata).
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ، أَوْ مِنْ نَفْسِهِ، أَوْ مِنْ مَالِهِ مَا يُعْجِبُهُ فَلْيُبَارِكْهُ، فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ
Artinya:
“Apabila salah seorang dari kalian takjub melihat sesuatu kepada saudaranya atau dirinya sendiri atau hartanya, maka doakanlah keberkahan atasnya, karena al ‘ain itu benar-benar nyata adanya” (HR. Ahmad No. 24/466, sahih kitab silsilah ash shahihah No. 2572).
Syaikh Al ‘Allamah bin Jibrin berkata sebagaimana al ‘ain bisa menimpa hewan, maka al ‘ain juga bisa mengenai tempat, rumah, pohon, barang, mobil, jalan, jembatan, dan semisalnya.
Keterangan Syaikh Al ‘Allamah bin Jibrin dinukil dari Al-Fatawa Adz-Dzahabiyyah Fir Ruqo Asy-Syar’iyyah atau Fatwa-fatwa Ulama Besar tentang Ruqyah Syariah karya Syaikh Abdul Al Aziz ibn Baz, Muhammad Ibnu al Utsaimin, dan Abdul al Rahman al Jibrin hal. 111).
Ruqyah akbar Jembatan I Barelang Batam Jumat (21/11/2025) adalah perang spiritual dan terbuka secara nyata kepada setan dan jin sebagaimana Al Qur‘an menyuruh kepada kita.
اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّاۗ اِنَّمَا يَدْعُوْا حِزْبَهٗ لِيَكُوْنُوْا مِنْ اَصْحٰبِ السَّعِيْ
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka Sa‘ir yang menyala-nyala” (QS. Fathir: 6)
Singgasana Iblis di Atas Air
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ :إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ، ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ، فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً. يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا زِلْتُ بِفُلَانٍ حَتَّى فَعَلَ كَذَا وَكَذَا. فَيَقُولُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا. قَالَ : ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ، وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ
Dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air. Lalu ia mengutus pasukan-pasukannya. Yang paling dekat kedudukannya di sisi Iblis adalah yang paling besar fitnahnya. Salah seorang dari mereka datang dan berkata: ‘Aku terus menggoda si fulan sampai ia melakukan ini dan itu.’ Iblis berkata: ‘Engkau belum melakukan apa-apa.’ Kemudian datang yang lain (setan) dan berkata: ‘Aku tidak meninggalkannya sampai aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya.’ Maka Iblis mendekatkan dia dan berkata: ‘Engkaulah yang paling hebat’” (HR. Muslim No. 2813).
Fitnah terbesar Iblis bukan sekadar membuat manusia marah, malas, atau meninggalkan ibadah. Rasulullah ﷺ menjelaskan setan yang paling dipuji Iblis adalah yang mampu memisahkan manusia dari orang yang paling dicintainya.
Jika merusak hubungan suami–istri saja diberi gelar “YANG TERBAIK”, maka apa lagi godaan untuk memisahkan manusia dari hidupnya (bunuh diri). Tentu saja hal ini termasuk fitnah besar yang menjadi prestasi tinggi pasukan-pasukan iblis.
Posisi jembatan yang tinggi, angin kencang, di bawahnya air laut gelap tak berkedap—semua menjadi titik konsentrasi setan dan jin yang mengintai manusia yang imannya sedang rapuh.
Bisikan gelap itu selalu sama:
“LONCAT SAJA…”
“HIDUPMU SUDAH SELESAI…”
“TIDAK ADA YANG PEDULI LAGI…”
“TENANG… HABIS INI SEMUA AKAN BERAKHIR…”
“TAK BERGUNA HIDUPMU… SUDAH TERLALU BANYAK DOSA, TAK AKAN DITERIMA TOBATMU…”
Bisikan-bisikan seperti itu bukanlah suara akal sehat. Bukan suara fitrah. Dan bukan suara jiwa. Itu adalah bisikan iblis yang mengincar titik rawan manusia.
Inilah mengapa ruqyah di tempat-tempat seperti ini bukan sekadar simbolik, tetapi upaya membuka mata umat bahwa:
💧 Bisikan gelap itu nyata
💧 Ia bekerja dari balik tempat-tempat yang tampak indah
💧 Dan ia menargetkan manusia yang sedang sendirian, sedih, rapuh dan terbelah hatinya
Ruqyah Jembatan I Barelang dengan 5.000 liter air ruqyah bukanlah aksi mencari sensasi. Tujuannya upaya menyeterilkan area yang menjadi titik rawan fitnah dan perang spiritual.
Hal itu sebagaimana para ulama terdahulu melakukan ruqyah rumah, lembah, dan tempat-tempat sunyi. Ini adalah seruan peringatan bahwa:
💧 Iblis memang menempatkan singgasananya di atas air
💧 Ia mengirim pasukan yang menjalankan misinya di tempat-tempat seperti ini
💧 Dan tugas syariat adalah melawan, menutup pintu fitnah, bukan membiarkannya liar
Pelajaran Besar untuk Kita Semua
💧 Iblis bekerja sistematis, punya pasukan, punya target, dan punya operasi
💧 Air dan tempat tinggi sering menjadi lokasi gangguan karena sesuai strategi iblis
💧 Bisikan bunuh diri bukan gangguan kecil, tapi serangan keras dari pasukan-pasukan iblis
Ruqyah akbar di jembatan adalah upaya menyeterilkan area yang menjadi titik rawan fitnah. Hal ini sebagaimana para ulama terdahulu melakukan ruqyah rumah, lembah, dan tempat-tempat sunyi.